15 Maret 2012 - 20:30

Para pengunjuk rasa mengumandangkan slogan mengutuk intervensi dan campur tangan Qatar, Arab Saudi dan AS dalam urusan dalam negeri Suriah. Mereka menegaskan, rakyat Suriah tidak perlu campur tangan Negara manapun untuk menyelesaikan problem nasional mereka karena Suriah jauh lebih kuat dari yang Negara-negara itu bayangkan, justru mereka balik menyerang bahwa AS dan sekutu-sekutunyalah yang akan hancur dikemudian hari.

Menurut Kantor Berita ABNA, Rakyat Suriah tumpah ruah di Damaskus dan berbagai wilayah lain Kamis (15/3) untuk memberikan dukungan mereka terhadap Bashar Asad setelah presiden tersebut mengumumkan secara resmi dimulainya reformasi, penciptaan kestabilan dan keamanan negara itu. Para pengunjuk rasa mengumandangkan slogan mengutuk intervensi dan campur tangan Qatar, Arab Saudi dan AS dalam urusan dalam negeri Suriah. Mereka menegaskan, rakyat Suriah tidak perlu campur tangan Negara manapun untuk menyelesaikan problem nasional mereka karena Suriah jauh lebih kuat dari yang Negara-negara itu bayangkan, justru mereka balik menyerang bahwa AS dan sekutu-sekutunyalah yang akan hancur dikemudian hari. Selain itu, jutaan warga Suriah tersebut bukan hanya membawa dan mengibarkan bendera nasional mereka namun juga mengibarkan bendera Palestina dan Bahrain serta gambar-gambar presiden yang mereka elukan dan dukung. Adanya aksi dukungan rakyat Suriah tersebut atas kepemimpinan presiden Bashar Assad dalam menghadapi tekanan asing meruntuhkan klaim Barat dan Negara-negara Arab tetangga bahwa Asad bersikap diktator dalam mengurusi negaranya dan tidak lagi mendapat dukungan rakyatnya. Demonstrasi pro-pemerintah juga digelar di beberapa kota lainnya di seluruh Suriah. Pawai akbar di Damaskus diadakan dua hari setelah Presiden Assad mengumumkan bahwa pemilu parlemen akan digelar pada tanggal 7 Mei. Pemilu tersebut merupakan pemilu legislatif ketiga di Suriah sejak Bashar Assad menjabat presiden pada tahun 2000. Pemilu parlemen akan diselenggarakan di bawah konstitusi baru yang disetujui oleh mayoritas pemilih Suriah dalam referendum 26 Februari lalu. Pada tanggal 28 Februari, Presiden Assad mendukung konstitusi baru sebagai bagian dari reformasi yang dijanjikannya. Konstitusi baru menghapus Pasal 8 yang menyatakan bahwa Partai Baath sebagai pemimpin negara dan masyarakat. Selain itu, Undang-undang Dasar baru juga menetapkan sistem multipartai di Suriah dan membatasi jabatan presiden sampai dua periode, di mana satu periodenya tujuh tahun. Pemilu parlemen yang akan digelar pada tanggal 7 Mei nanti juga akan menjadi pemilu parlemen pertama di bawah sistem multipartai baru. Suriah telah mengalami kerusuhan sejak pertengahan Maret 2011. Pada tanggal 20 Februari, Presiden Assad mengatakan bahwa beberapa negara asing telah memicu gejolak di Suriah dengan mendukung dan mendanai kelompok teroris bersenjata untuk melawan pemerintah.